Mendidik Mentalitas Anak Indonesia dengan BUDAYA DONGENG

Mendidik Mentalitas Anak Indonesia dengan BUDAYA DONGENG adalah salah satu cara mempersiapkan pondasi kehidupan masa depan calon pemimpin bangsa ini. Hari ini, dekadensi moral dan defisiensi akidah seolah menjadi penyakit yang menghambat kemajuan negara kita saat bersaing dalam kehidupan global. Problem ini juga yang memberikan motivasi saat penulis informasi di internet aktif bergerak sebagai fungsionaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Mendidik dengan dongeng, cerita pengantar tidur, dan legenda bermuatan positif adalah sebuah metode pembelajaran efektif. Salah satu situs yang tepat untuk mendapatkan kisah anak secara lengkap adalah google.com secara gratis.

mendidik mentalitas anak

mentalitas anak Indonesia

Banyak kejadian sehari-hari yang berkaitan dengan mentalitas anak Indonesia saat ini. “Semua jadi Rp. 17.500,- Pak… “ Kata kasir Indo***t. Langsung aku keluarkan permen dan aku hitung hingga seharga 17.500 kemudian aku kasihkan ke kasir itu. “Loh kok bayar pakai permen Pak??” Tanya kasir itu. “Selama ini kan anda selalu memotong pengembalian dibawah 500 dengan permen, maka sekarang saya kembalikan untuk belanja disini.” Kataku. Maka berantemlah kami pagi-pagi…

Itu sedikit petikan kejadian dari salah satu kawan. Bukan bermaksud menjelekkan nama sebuah perusahaan Indonesia yang terkenal itu, karena saya tulis secara blak-blakan. Namun karena saya rasa sudah terlalu bahkan keterlaluan dimana hal seperti itu masih terus dilakukan dan diwajarkan. Dilakukan oleh pengelola toko dan diwajarkan oleh para pembeli. Dalam hitungan rupiah, mungkin itu tidaklah seberapa. Namun dalam hitungan rasa, sungguh sesuatu yang sangat mengganggu.

Bagaimana Cara Mendidik Mentalitas Anak?

Sebenarnya dari hal seperti ini, bisa dan sangat bisa bagi kita semua untuk membaca mental serta karakter bangsa terhormat ini. Mental yang permisif hingga melahirkan karakter kurang bisa menghargai hal-hal kecil. Carut marutnya sistem pemerintahan, semua berawal dari sifat seperti ini. Dan pangkalnya bersumber dari cara mendidik mentalitas anak yang kurang tepat.

Saya berikan contoh mudah lagi, “Bagi seorang anak yang notabene adalah anak pejabat, maka dia akan dengan mudah mendapatkan akses dari segala bidang apapun dan “dihargai” apapun yang dilakukannya meski itu buruk sekalipun. Namun, bagi anak yang hanya anak dari bukan orang berada, maka kesulitanlah yang akan terus menerus dihadapi”.

Nah mental dan karakter bangsa kita masih seperti ini, bagaimana “meminta” negara kita bisa menjadi negara yang terhormat dan dihargai?, Sedangkan penghormatan dan penghargaan terhadap hal kecil saja tidak bisa?. Padahal yakin 100% semua orang pasti mengenal “hargailah orang lain kalau ingin dihargai orang lain”. Namun apa yang terjadi, bangsa kita terlanjur sering lacur dengan hanya memandang “mewah” sebagai ukuran pandang untuk dihormati dan dihargai.

Mari memulainya dari diri kita sendiri masing-masing. Mulailah untuk meninggalkan mental dan karakter yang seperti ini sedikit demi sedikit. Hal ini untuk mendidik mentalitas anak dengan bijak dan benar.

Setidaknya bila kita tidak bisa berubah secara langsung, namun kita bisa menelurkannya untuk anak-anak dan cucu-cucu kita nantinya. Meski kita telah mati. Tapi kita pasti akan terus diingat sebagai pahlawan bagi mereka. Karena sudah ada penghargaan yang baik dari anak dan cucu kita atas hasil perubahan kita, dan kita tidak bernasib seperti para pahlawan kita yang kalah “HARGA” dari seorang Obama yang bukan siapapun bagi kita.

Dongeng, cerita, kisah, merupakan salah satu metode penyampaian pesan yang banyak disukai orang. Dalam beberapa literatur kitab suci, sangat banyak ayat yang berisi tentang kisah-kisah dan cerita-cerita. Pasti ada suatu hikmah yang besar mengapa metode ini banyak digunakan sekaligus disenangi orang. Selain bisa mendapatkan inspirasi dari cerita tersebut, biasanya cerita dapat menyentuh langsung ke hati para pendengarnya.

Adapun dongeng merupakan sebuah alur cerita yang disampaikan secara lisan. Biasanya merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi atau fiksi. Jika ada dongeng Nabi Yusuf maka itu kurang tepat. Seharusnya kisah Nabi Yusuf. Kisah-kisah heroik sangat baik digunakan untuk mendidik mentalitas anak Indonesia.

David McClelland, seorang pakar psikolog sosial, melakukan penelitian terkait dongeng yang berkembang di dua negara besar di Eropa, yakni Inggris dan Spanyol pada abad ke-16. Hasilnya ternyata sangat berbeda. Di Inggris, dongeng yang banyak berkembang adalah dongeng-dongeng yang memuat nilai motivasi untuk berprestasi, sedangkan di Spanyol yang berkembang justru dongeng-dongeng kejayaan masa lalu yang meninabobokan mereka. Inggris factually menjadi lebih maju dari Spanyol dalam berbagai hal, termasuk bidang ekonomi hingga saat ini.

Lalu, bagaimana dengan dongeng yang berkembang di Indonesia? Apa kaitannya dalam mendidik mentalitas dan karakter seorang anak?

Kita tahu semua bahwa yang sering diceritakan orang-orang tua menjelang anak tidur adalah cerita Si Kancil Pencuri Timun. Walhasil, korupsi merajalela. Anak diajarkan nilai-nilai buruk sejak kecil.

Cerita Jaka Tarub, yang sering diceritakan sering mengintip bidadari mandi di sungai. Akhirnya, pornografi menggurita hingga sampai anak-anak di bawah umur. Tidak salah memang apa yang ditemukan oleh McClelland, bahwa dongeng yang berkembang di sebuah negara dapat mempengaruhi kemajuan sebuah negara.

Ada baiknya kita harus segera mengubah konten dongeng atau cerita yang kita sampaikan ke anak. Pilihlah cerita-cerita yang menginspirasi untuk berbuat baik.

Di Indonesia banyak kisah-kisah heroik dan inspiratif yang berasal dari pejuang-pejuang kemerdekaan. Di antaranya kisah RA Kartini yang belajar Al-Qur’an dengan Kyai Sholeh. Karena ingin memahami lebih lanjut makna Al-Qur’an, Kartini meminta agar diterjemahkan Al-Qur’an yang sering dibacakan. Lahirlah Al-Qur’an terjemahan Indonesia.

Ada lagi kisah heroik mujahid kemerdekaan, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Bung Tomo. Mereka melawan penjajah yang menggunakan peralatan perang lengkap, sedangkan mereka sendiri tidak memiliki peralatan apapun selain yang sederhana. Namun, yang mereka andalkan adalah seruan heroik kemerdekaan. Mereka tidak ingin disebut pahlawan atau ingin sekedar dikenal banyak orang. Namun yang mereka cari hanyalah perbaikan bangsa semata.

Masih banyak kisah lain yang bisa sampaikan. Tergantung tujuan kita, apakah yang ingin kita tanamkan pada anak. Saat ini, Anda sudah bisa menggunakan Paket Internet Murah untuk download berbagai konten secara online.

Mendidik mentalitas anak melalui dongeng terbukti sangat berpengaruh luar biasa pada perkembangannya. Semoga dengan sering kita ceritakan kisah ataupun dongeng yang inspiratif akan membuat anak kita menjadi anak yang hebat seperti kisah-kisah pahlawan kemerdekaan kita. Untuk itu, silahkan membaca atau mengunduh berbagai Dongeng Anak seperti Petani yang Baik Hati, Anak Katak yang Sombong dan Anak Lembu, atau bahkan kisah Si Pitung. Jagoan Marunda yang bisa menginspirasi mentalitas anak kecil Indonesia sedari dini kan?


manfaatkan situs Jual Beli Paypal Indonesia untuk mendapatkan uang dari bisnis internet